Ngelanjutin postingan kemarin tentang link nofollow, mau lanjut tentang kerjasama dan postingan berbayar di blog. Kebetulan kemarin diingetin sama Bu Saf tentang ini. Mihihihi. *dadah-dadah

Gue udah beberapa kali terima tawaran kerjasama dari mulai yang bayarannya “cuma” seratus rebu dan berupa voucher buat belanja di satu online shop sampe ke sekian juta rupiah. Nyenengin memang kalo blog kita diapresiasi dan ditawarin kerjasama gitu. Buat gue pribadi, tawaran kerjasama gitu pada suatu titik sempet kasih harapan untuk ngelepas kerjaan yang sekarang dan jadi full time blogger.

Don’t get me wrong, gue kenal temen yang memang jadi full time blogger dan do it nicely, tapi belom buat gue karena komitmen gue belom segede itu.  Jadi ya akhirnya sadar lagi kalo paid-post, tawaran kerjasama dan postingan berbayar di blog belom jadi sesuatu yang bisa gw jadikan sumber mata pencaharian utama.

Standar kerjasama dan postingan berbayar di blog

Standar kerjasama dan postingan berbayar

Standar kerjasama dan postingan berbayar

Dari situlah gue kemudian mulai menerapkan beberapa standar yang gue terapkan kalo misalkan ada tawaran kerjasama dari brand. Standar ini gak serta merta gue pake waktu ada tawaran kerjasama dan postingan berbayar di blog, melainkan hasil browsing sana-sini dan pengalaman gue sendiri selama ini waktu menjelajahi blog temen-temen.

Standar ini gue terapkan di blog danirachmat.com setiap kali ada brand yang ngajakin kerjasama. Setiap ada email tawaran kerjasama masuk untuk review, atau untuk pemasangan link, akan gue sebutkan persyaratan berikut:

  1. Penyebutan (Advertorial) di judul postingan
  2. Informasi bahwasannya postingan ini berbayar di paragraf awal postingan (disclaimer singkat)
  3. Link yang dipasang berupa link nofollow
  4. Kalaupun yang diminta adalah link dofollow, biasanya akan berusia tiga bulan. Semakin lama link dofollow diminta tetap hidup, semakin mahal harga kerjasamanya

Yes, songong banget kan?

Beberapa kali brand ngejawab agak lama begitu gue bales dengan persyaratan itu, dibandingkan dulu waktu gue langsung asal terima aja tanpa ada persyaratan. Kalopun dibalas cepet, biasanya langsung disorotin di bagian link yang meminta link hidup dan harus selamanya.

Gue rasa sekarang sudah banyak lah ya blogger yang tahu kenapa brand minta link hidupnya harus selamanya lalalili? Yakarena link hidup itu bakalan ngebantu memperbaiki peringkat mereka di hasil pencarian dan juga banyak peringkat-peringkat lainnya.

Kalo yang gue lakukan beberapa waktu ini sampe kemaren rame-rame itu ya tetep keukeuh sumekeuh gak mau ngikutin kemauan brand (kecuali brandnya emang masuk sama niche blog gue dan kasih nilai tambah). Ujungnya? Gue jadi sepi tawaran kerjasama dan postingan berbayar di blog. Tapi yastralah ya 😀

Alasan di balik kebijakan gue

Ini manteman boleh percaya boleh nggak, gue sebenernya gak aware tentang Google Guideline yang harus ina-inu-ine-ino itu sebelumnya. Gak ngeh kalo Google sebenernya punya policy tentang postingan berbayar di blog ini. Trus kenapa dengan songongnya gue bisa menerapkan aturan itu? Ini nih beberapa alesannya:

Naikin peringkat itu mahal jenderal!

Gue pahamnya kalo misalkan ada link masuk mengarah ke website/blog kita, itu akan bantu naikin peringkat dari website/blog kita. Jadi ya di pikiran gue, brand mau minta gue buat kasih link hidup ke website mereka ya karena mereka pengen meningkatkan presence di ranah internet kan. Lha kalo misalkan yang gue taroh linknya bisa seberpengaruh itu, yamasa gue jual murah aja dan mau dibayar berapapun.

Gue nyadarnya kalo waktu penempatan link itu bisa berharga buat dijadikan senjata nego ama brand. Hahaha… Jadi semakin lama pasang link dofollow semakin mahal seharusnya. Purely karena itu awalnya. Jadi ya bisa dibilang emang songong dan emang mata duitan.

Kualitas blog vs bayaran yang diminta

Iklan

Iklan

Nah setelah punya pemikiran buat jualan waktu pemasangan blog, fokus gue pun berubah. Sasaran gue setelah nyadar pentingnya link itu, adalah mencari kerjasama dan postingan berbayar di blog untuk brand-brand yang emang sesuai dengan kredibilitas blog. Gak sembarangan semua disamber. Pelan-pelan gue perbaikin blog dan naikin peringkat ina-inu-ine-ino yang emang jadi pengukuran brand.

Usaha gue lakukan dengan beli themes premium buat layout yang kelihatan profesional, isi postingan yang gak asal nulis press release dan berusaha sebisa mungkin memberikan isi postingan yang berkualitas. Pun bahkan untuk postingan berbayar.

Nggaaak, gue bukan ahli infografis yang bisa bikin postingan gue bertaburan gambar-gambar lucu nan menawan hati, tapi isi dari postingan akan gue bikin gak ngebosenin, relatable dan bisa kasih nilai tambah buat yang baca. Bukan semacam postingan yang “oh-gue-udah-baca-isi-postingan-semacam-ini-di-blog-lain-deh-kayaknya”. Lagipula, dengan kerjasama dan postingan berbayar di blog, brand juga akan mendapatkan tambahan karena gw juga promosikan demi mendapatkan traffic untuk blog gue juga.

Bukan softselling yang “menjerumuskan”

Reklame

Reklame

Satu lagi yang mau gue pastikan dengan menerapkan syarat-syarat ina-inu-ine-ino di postingan gue adalah jangan sampe postingan kerjasama dan postingan berbayar di blog gue jadi menjerumuskan yang baca dan yang cari informasi.

Pertama, penempatan (Advertorial) di judul postingan untuk memastikan yang baca postigan gue tahu kalo itu memang postingan kerjasama dan postingan berbayar di blog. Dengan mengetahui dari awal kalo yang mereka baca adalah postingan berbayar, gue harapkan teman-teman bisa dengan kesadaran sendiri mau melanjutkan baca atau nggak postingan itu.

Ini berisiko orang akan langsung tutup postingan kerjasama dan postingan berbayar di blog gue kan ya? Karena itulah tugas gue berikutnya adalah memastikan isi postingan masih akan memberikan manfaat ke yang baca (bukan cuman ke gue yang terima pembayaran). Hal ini memaksa gue untuk bisa jadi lebih kreatif menciptakan content yang engaging (ujungnya sama seperti yang diminta ama google kan?).

Nah,  soal heading (Advertorial) ini, pernah dilakukan salah satu temen yang masih ngeblog di WordPress.com dan ternyata entah postingannya atau judulnya aja yang bertuliskan (Advertorial) dihapus oleh WordPress.com. Jadi, penggunaan penanda itupun gak bisa dilakukan di blog berbasis WordPress.com. Kalau self hosted WordPress blog kayak gue gini kan bebas ya buat posting kerjasama dan postingan berbayar di blog.  😀

Berikutnya, menjerumuskan orang yang mencari informasi waktu searching dengan menggunakan link dofollow selamanaya. Seperti sudah dijelaskan sama Google, kalo link dofollow akan ngebantu peringkat di hasil pencarian naik. Semakin banyak yang kasih link maka semakin naiklah peringkatnya.

Kalo yang melakukan ini adalah brand dengan kemampuan finansial untuk membayar blogger meletakkan brand mereka, gak menutup kemungkinan waktu orang mencari tentang sesuatu yang keluar adalah postingan para blogger atau malah halaman website si pemilik brand. Kalo kayak gitu kan orang yang nyari review berdasarkan pengalaman pribadi orang lain jadi tersesatkan.

Yegaksih? Menurut gue sih iyes.

Karena gue sendiri pernah beberapa kali nyari tentang sesuatu berujung ke homepage sebuah brand diikuti dengan beraneka postingan berbayar yang gak bilang kalo itu postingan berbayar. Soft selling istilahnya yes?

Makdarit dari beberapa waktu setelah gue nyadar, gak mau lagi gue melakukan “soft selling” itu dan tawaran kerjasama dan postingan berbayar pun gue berlakukan dengan beberapa syarat tersebut. Dan yes, ujungnya banyak brand yang kemudian urung kerjasama ama gue. Toh (mungkin lho ya ini) menurut brand di luar sana masih banyak blogger lain yang mau ambil job ini dengan fee yang mereka tawarkan dan syarat yang mereka minta.

A link is still a link right? Etapi semuanya balik lagi ke tujuan awal ngeblognya masing-masing sih ya.

Jawaban ke brand yang gue pakai

Nah, kalo misalkan ada tawaran kerjasama dan postingan berbayar di blog dari brand dan setelah gue ajukan syarat itu tapi brandnya gak mau dan tetep minta ina-ina-inu, jawaban yang gue pake adalah:

“Saya ingin menjaga integritas dan kualitas blog ini dan juga meyakinkan bahwasannya link yang keluar dari blog ini tetap berkualitas sehingga website yang menerima link dari blog saya  tetap mendapatkan manfaatnya.”

Dan gue rasa dengan “meleduknya” kondisi ini kemaren, mestinya lebih banyak blogger yang bisa ngomong hal yang sama karena memang link berbayar jangan sampe menyesatkan pembacanya. Sebesar apapun tawaran kerjasama dan postingan berbayar di blog mestinya jangan sampe mengorbankan integritas si empunya blog.

34 Response Comments

  • Gara22/03/2016 at 8:59 am

    Pendirian yang teguh banget Mas, argumennya juga kuat. Paling dasar memang balik ke tujuan ngeblog masing-masing tapi misalkan ada tawaran kerja sama juga nggak boleh asal dapat bayaran tanpa ada tanggung jawab sosial ya. Soalnya ngeselin banget yang kita pengen cari info soal sesuatu (obat, misalnya) eh tapi ketika googling dan buka postingan orang malah isinya postingan berbayar yang nggak ada isinya, malah yang bertebaran kata kunci tak ada juntrungannya :hehe :peace.

    Balas
    • Dani Rachmat Kurniawan23/03/2016 at 4:09 am

      Ahahaha. Iya Gaar. Memang yang Google dan banyak orang gak mau ya tanggung jawab sosial yang gak ada itu ya. Postingan berbayar tapi nyaru dengan postingan biasa dan akhirnya malah bikin orang yang lagi cari informasi gak dapet apapun yang diharapkan. Hiks banget kan kalo kita yang ngalamin ya…

      Balas
  • Deny22/03/2016 at 5:02 pm

    Jadi tahu seluk beluk postingan berbayar. Terus terang aku jadi semacam suudzon dan “menandai” beberapa blogger yang sering menyelundupkan postingan berbayar. Lha soale enak2 baca cerita trus ada link kupikir ada cerita sebelumnya ternyata ngelink ke website jualan. Ya gpp sih kan hak mereka juga. Cuman aku kesel haha. Semacam “yaah, kena deeh” :p. Trus juga suka senewen sendiri kalau baca beberapa ulasan postingan berbayar yang bahasannya sama. Ya gpp juga sih, tapi kesannya kurang kreatif. Btw, ini ga nyinyir, cuman curhat sebagai pembaca blog haha
    Keren Dan dirimu menetapkan standar buat blogmu. Dengan begitu brand-brand yang mau bekerjasama denganmu terfilter dengan sendirinya. Hal itu juga semakin bikin blogmu tersegmentasi.

    Balas
    • Dani Rachmat Kurniawan23/03/2016 at 4:13 am

      Iya Deeeeen. Yang tetiba ada link itu akhirnya kena peringatan keras dari Google loh. Pihak yang dikasih link diminta sama google untuk meminta blogger-blogger ngedrop linknya. Sementara pihak yang kasih link ternyata banyak yang gak tahu tentang Google guidelinenya ini. Komunitas yang ngajakin kerjasama sepertinya gak kasih clear guidance gimana seharusnya ngikutin Google guideline buat postingan berbayar. :,(
      Kalo yang isi postingannya sama sih ya karena mereka sendiri belom ngerasain pake produknya, trus diminta untuk posting tentang produk itu, jadi mau gak mau ya dari press release ato apapun lah materi dari brandnya. Aku dhewe ya buosen mocone. Jadi ya sebisa mungkin harus dihindari posting hal yang seperti itu.. 😀

      Balas
    • Vita24/03/2016 at 3:53 am

      Idem komentar mbak Deny, hehe…
      (udah komen di wa komen di sini lagi ya biar rame sekalian nyolek mb Deny :p )

      Balas
  • Desy Yusnita23/03/2016 at 4:44 pm

    Iya sih, kita harus kompak demi membuat brand aware akan hal ini. Kalau kompak pasti ngikut hehehe

    Balas
    • Dani Rachmat Kurniawan26/03/2016 at 2:21 pm

      Bener Mbak Desy… Sekarang sih kondisi mungkin lebih better karena bloggers sudah pada tahu bagaimana yang seharusnya ya Mbak 🙂

      Balas
  • lianny hendrawati23/03/2016 at 5:02 pm

    Baru tau Dani punya blog ini.
    Emang rame nih status nofollow dofollow ya. Selama ini job review belum kutulis [Advertorial] di Judul post, cuma untuk kategorinya sudah kumasukkan di kategori reviews & sponsored. Kebanyakan brand juga mintanya softselling.
    Mulai sekarang harus mengikuti nih statement dari Google itu. Beberapa tawaran lewat karena mereka maunya dofollow, tapi aku nggak mau, memang jadi rada sepi job sih haha.
    Oya kalo kita terima produk (endorse) diperlakukan yang sama ya, tetap ditulis Advertorial?

    Balas
    • Dani Rachmat Kurniawan26/03/2016 at 2:20 pm

      Mbak Lianny, maafkan baru dibales. Hihihi.. Iya Mbak, blog ini buat nyatet dokumentasi ngeblog di WordPress secara teknis bagaimana. Hehehe….
      Kalau terima produk sih diberlakukan sama mestinya ya Mbak. Karena produk yang kita terima gratis itu kan sama dengan bayaran ya 😀

      Balas
  • Dita23/03/2016 at 5:52 pm

    JLEB!
    ini nohok banget maaasss, tapi ya peringkat blog-ku masih segitu2 aja sihhh…jadi mau jual mahal juga dilema yaaaa kadang2 *curhatan blogger remah2 rempeyek*

    Balas
  • Anang29/03/2016 at 10:12 am

    Wow . . . kebijakannya keras banget bro. Tapi saya setuju, karena iklan dan konten itu harus terpisah dengan jelas. Jangan sampai pengunjung tertipu, iklan dikira konten atau sebaliknya konten dikira iklan.

    Yang sekarang terjadi justru media membuat iklan seolah-olah bagian dari konten, supaya link-nya “terklik”.

    Balas
    • Dani Rachmat Kurniawan28/09/2016 at 4:56 am

      Sebenarnya selama kontennya masih bermanfaat dan iklannya benar-benar bisa nyambung dengan kebutuhan sih gpp. Yang kzl pas cari review yang keluar iklan dibalut konten. Jadi kan gak obyektif. 😀

      Balas
  • Ria Rochma12/04/2016 at 6:01 pm

    Dari semua artikel yg aku baca tentang do/nofol, baru ngeh maksudnya di sini. Penjelasannya ga bahasa ilmiah ala-ala master SEO 😀

    Hm,
    Setelah rame2 kmrn itu, memang akunya sendiri mulai berlakukan ‘keseimbangan’ waktu nulis artikel. Sebisa mungkin memang, diimbangi sama nulis yg ga berbayar. Masih sejauh itu sih. Belum sampai seperti mas Dani begini. Hehe..

    Balas
  • siuplug21/06/2016 at 11:43 am

    pas banget om, ane juga kasih syarat dan ketentuan seperti itu

    Balas
  • belalang cerewet16/07/2016 at 10:14 am

    Pernah sih ada brand yang deketin, pas udah oke semua terms-nya, eh dia aga kasih kabar lagi. Hehe.
    Hidup blogger! Kudu jual mahal ya Mas….

    Balas
    • Dani Rachmat Kurniawan17/07/2016 at 11:23 pm

      Hehehehe.. Tergantung tujuannya Pak. Mau jual mahal apa tidak tergantung apa yang dicari dan guidance yang ditetapkan untuk blog masing-masing. Beda blogger bisa jadi beda tujuan dan beda guidance dan policy kan 😀

      Balas
  • Deddy Huang18/07/2016 at 8:09 am

    Mas, soal lama waktu dofollow nya, berarti misal waktunya 1 bulan, kamu buka post dan hyperlink di hapus kembali semua. Kayak gitu maksudnya kah?

    Balas
    • Dani Rachmat Kurniawan28/09/2016 at 4:52 am

      sori Om Ded, baru balas. Bukan hyperlink dihapus semua, tapi dijadikan link mati dengan nambah atribut rel=”nofollow”

      Balas
  • Relinda Puspita21/07/2016 at 3:37 pm

    Kalo misalnya udah sepakat pake link hidup permanen. Terus gmn etikanya kita mengurangi link jd nofollow tanpa member tahu klien? Btw, apa bener, meskipun di nofollow, link hidup akan tetap hidup selama gak dihapus?

    Balas
    • Dani Rachmat Kurniawan28/09/2016 at 4:50 am

      Kalo sudah sepakat link hidup permanen ya mau gak mau dibiarkan saja seperti itu Mbak Relinda. Kan gak etis ya sudah sepakat link hidup permanen trus diganti jadi nofollow.
      Kalau link hidup (dofollow) diganti jadi nofollow, berarti ya sudah gak hidup linknya Mba. 🙂

      Balas
  • baiqrosmala29/08/2016 at 6:04 pm

    waah pendirian yang sangat mantaabs.. kalau saya sepertinya belum bisa seperti itu hahaha

    Balas
  • jaka22/10/2016 at 10:35 am

    terimakasih bos infonya dan salam sukses

    Balas
  • tejo22/10/2016 at 10:36 am

    makasih gan infonya dan semoga bermanfaat

    Balas
  • Maria Soraya08/11/2016 at 11:59 pm

    Saya migrasi domain oktober kemarin dan lagi belajaaaar dari nol soal teknis per-blog-an. Baru nyasar ke sini nih. Isinya WP semuah. Syukak !

    Balas
  • Blog Campuran14/11/2016 at 6:03 pm

    Kalo saya sih Iyes..
    Ya. Sepakat sama ente bro. Dengan begitu kualitas blog dan link keluarnya juga memiliki kualitas bagus. Plus pembaca tidak merasa dirugikan. Pemikiran cerdas bro.. Lanjutkan!

    Balas

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.

You may also like